Amerika Serikat Sita Kapal Minyak, Ketegangan Global Memanas

ondailyread Aksi Amerika Serikat (AS) menyita sebuah kapal tanker minyak di perairan internasional kembali mengguncang peta geopolitik dunia. Kapal tersebut di ketahui membawa sekitar 1,8 juta barel minyak mentah asal Venezuela dengan tujuan pengiriman ke China. Insiden yang terjadi di Laut Karibia ini langsung memicu reaksi keras dari berbagai pihak.
Kronologi Penyitaan Kapal
Kapal tanker yang berlayar dari Venezuela menuju China di cegat oleh otoritas Amerika Serikat saat melintasi perairan internasional. AS kemudian menyita kapal beserta muatan minyaknya. Pemerintah AS menyatakan bahwa tindakan tersebut di lakukan karena pengiriman minyak Venezuela dianggap melanggar sanksi ekonomi yang selama ini di berlakukan Washington terhadap Caracas.
Namun, fakta bahwa penyitaan di lakukan di laut internasional menimbulkan perdebatan besar di tingkat global, terutama terkait kedaulatan hukum dan kebebasan navigasi.
Akar Masalah: Sanksi AS terhadap Venezuela
Amerika Serikat telah lama menjatuhkan sanksi ketat kepada Venezuela, khususnya di sektor energi dan minyak. Sanksi ini bertujuan menekan pemerintahan Venezuela yang di anggap tidak sejalan dengan kepentingan politik AS.
Dalam pandangan Washington:
-
Minyak Venezuela tidak boleh di perdagangkan bebas tanpa izin AS
-
Setiap pihak yang membeli atau mengangkut minyak tersebut di anggap melanggar hukum sanksi
-
Penyitaan kapal di nilai sebagai langkah penegakan hukum internasional versi AS
Namun, pandangan ini tidak diterima oleh semua negara.
China Bereaksi Keras
China sebagai negara tujuan pengiriman minyak tersebut langsung menyatakan ketidakpuasan. Beijing menilai:
-
Transaksi minyak Venezuela adalah urusan dagang yang sah
-
Sanksi sepihak AS tidak bisa diberlakukan ke seluruh dunia
-
Penyitaan di laut internasional merupakan tindakan provokatif
Bagi China, aksi ini bukan hanya soal minyak, tetapi juga menyangkut pengaruh dan dominasi AS di jalur perdagangan global.