13 Tahun Lalu: Aksi Jokowi Masuk Gorong-Gorong Bundaran HI

ondailyread Hari ini, tepat 13 tahun yang lalu, publik Indonesia menyaksikan sebuah momen yang hingga kini masih di kenang. Saat itu, Joko Widodo (Jokowi) yang masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta,
Aksi tersebut bukan sekadar simbolik, melainkan bentuk nyata kepemimpinan yang ingin melihat langsung persoalan yang di hadapi masyarakat Jakarta.
Langkah Nyata di Tengah Masalah Banjir
Pada masa itu, Jakarta kerap di landa banjir akibat buruknya saluran air dan gorong-gorong yang tersumbat. Jokowi memilih untuk tidak hanya menerima laporan di balik meja, melainkan mengecek langsung kondisi di lapangan.
Dengan mengenakan pakaian sederhana, ia masuk ke gorong-gorong untuk:
-
Melihat kondisi saluran air yang sebenarnya
-
Memastikan penyebab penyumbatan
-
Memberikan arahan langsung kepada jajaran terkait
Langkah ini dinilai tidak biasa bagi seorang kepala daerah, namun justru menjadi sorotan positif di mata masyarakat.
Simbol Kepemimpinan yang Membumi
Aksi masuk gorong-gorong tersebut kemudian menjadi ikon gaya kepemimpinan Jokowi: sederhana, dekat dengan rakyat, dan fokus pada solusi. Banyak pihak menilai bahwa tindakan itu mencerminkan keberanian serta kesungguhan dalam menyelesaikan masalah kota yang kompleks.
Peristiwa ini juga memperkuat citra Jokowi sebagai pemimpin yang:
-
Tidak berjarak dengan rakyat
-
Berani turun langsung
-
Mengutamakan kerja nyata dibanding retorika
Dampak dan Warisan
Setelah kejadian tersebut, perbaikan sistem drainase Jakarta mulai di lakukan secara bertahap. Meski masalah banjir belum sepenuhnya teratasi hingga kini, momen tersebut tetap dikenang sebagai titik awal pendekatan kepemimpinan yang lebih responsif dan transparan.
Tak sedikit yang menilai bahwa peristiwa inilah yang turut mengangkat popularitas Jokowi ke tingkat nasional, hingga akhirnya mengantarkannya menjadi Presiden Republik Indonesia.
Penutup
Tiga belas tahun telah berlalu, namun aksi Jokowi masuk gorong-gorong Bundaran HI masih menjadi bagian penting dalam sejarah politik Indonesia. Sebuah pengingat bahwa kepemimpinan tidak hanya soal jabatan, tetapi juga keberanian untuk turun langsung menghadapi persoalan rakyat.